A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /home/arrah340/public_html/sma/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /home/arrah340/public_html/sma/index.php
Line: 315
Function: require_once

BULETIN DAKWAH | SMAS UNGGUL AR-RAHMAN

SMAS UNGGUL AR-RAHMAN

Jl. Moch Amir Km 9, Kec. Bojonggenteng Parungkuda Kab. Sukabumi Jawa Barat

Membina Generasi Yang Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Humanis

BULETIN DAKWAH

Jum'at, 20 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 46 Kali

(disampaikan pada  khutbah Jum;at Masjid Bairrahman, pondok pesantren Ar-rahman)

Oleh Ust. Yana Mulyana, S.Th.I

 

Hari ini, jumat 22 September 2017, sesungguhnya bertepatan dengan tanggal 2 muharram 1439 H. Artinya, kita baru saja memasuki hari kedua tahun baru hijriyah 1439. Maka tidak ada salahnya kita kupas sedikit tentang makna hijrah.

Secara bahasa hijrah berarti At-Tarku yang artinya meninggalkan, baik meninggalkan tempat maupun meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Dalam syari’at islam hijrah diartikan meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam karena takut fitnah.

Selain pengertian tsb, dalam terminology Islam, Hijrah juga mempunyai  arti meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda : “Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Meninggalkan segala bentuk yang dilarang Allah kalau dijabarkan ,bisa berarti perpindahan seorang muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada Tauhid, dari Nifaq kepada Istiqomah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal. Singkat kata, perpindahan total seorang muslim dari kehidupan yang serba jahili menuju kehidupan yang serba Islami. Hijrah dalam pengertian ini disebut Hijrah maknawiyah atau bisa juga disebut Hijrah Qalbiyah (hijrah hati).

Bila demikian adanya, sekarang marilah kita bertanya pada diri kita masing2, apakah kita sudah meninggalkan kehidupan jahiliyah menuju kehidupan yang islami atau belum?

Untuk menjawabnya, ada baiknya kita ikuti kisah SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir abad 18 yang pernah geram dan marah terhadap dunia Barat karena mengganggap Islam itu kuno dan terbelakang.

Kepada Joseph Ernest Renan, seorang filsuf dan sejarawan Prancis, Syaikh Muhammad Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, sempurna ajarannya, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya. Namun dengan ringan saja Joseph Ernest Renan, yg juga pengamat dunia Timur itu mengatakan :
“Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran. Tapi tolong tunjukkan kepada saya satu saja komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”.
Syaikh Muhammad Abduh hanya bisa terdiam tanpa berkata-kata lagi, karena mengetahui kenyataan bahwa beliau tdk bisa menunjukkan hal tsb.

Satu abad kemudian, beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Joseph Ernest Renan.
Untuk tahap awal, mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti Kejujuran (shiddiq), Amanah, Keadilan, Kebersihan, tepat waktu, Empati, Toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah s.a.w.

Lantas, berbekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai 'islamicity index', mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut.
Hasilnya, Selandia Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami.

Sedangkan Negara kita sendiri yg mayoritas penduduknya muslim, yaitu INDONESIA harus puas berada di urutan ke 140.

Nasibnya tak jauh beda dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di ranking' antara 100 s.d 200an.

Bila kita mau sedikit saja menelaah dan menganalisis isi kandungan al-Qur’an dan Hadits Nabi, maka pasti kita akan mendapat kesimpulan bahwa nilai-nilai luhur Islam dan hal-hal yang islami lebih banyak didominasi oleh indikator-indikator atau ciri-ciri, dibandingkan dengan definisi atau pengertian.

Diantara indikator-indikator tersebut misalnya saja dalam al-Qur’an Surat al-mu’minun ayat 2 s.d ayat 8:

Orang beriman adalah yang sholatnya khusu’, menjauhkan diri dari hal yg tidak berguna, selalu menunaikan zakat, yang menjaga kehormatan diri dan kemaluannya, serta menjaga amanah dan janji.

surat Ali Imron ayat 134:

Orang bertaqwa adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Sedangkan dalam hadits diantaranya saja sebagai berikut :

  1. “Seorang Muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya”.
  2. "Keutamaan Islam seseorang adalah yang meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”.
  3. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bicaralah yang baik atau diam,
  4. kemudian hormatilah tetangganya, dan hormatilah tamunya."

Dari uraian ini, kita akan paham bahwa sesungguhnya ajaran Islam lebih mengedepankan dan memprioritaskan aksi dibandingkan definisi. Maka tak heran manakala Syeikh Muhammad Abduh melawat ke Prancis akhirnya beliau berkomentar :
“Saya tidak melihat Muslim disini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya saat di Mesir, saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.

Pengalaman serupa juga dirasakan Profesor Afif Muhammad, Guru Besar pemikiran Islam UIN Sunan Gunung Jati Bandung, ketika berkesempatan utk berkunjung ke Kanada yang merupakan negara paling islami no 5.

Beliau terheran-heran melihat penduduk disana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya. Saat salah seorang penduduk ditanya tentang hal ini, orang tsb malah balik bertanya : “mengapa harus dikunci ?” Jawaban ini seolah-olah menampar keras relung lubuk hati kita, bahwa mereka meskipun mayoritas bukan orang Islam, nyatanya mampu berperilaku islami. Sedangkan kita sebaliknya, mayoritas Islam, faktanya justru mayoritas pula yang perilakunya jauh dari nilai-nilai Islam.

Pada kesempatan lain, masih di Kanada, ada seorang pimpinan ormas Islam terkenal pernah ketinggalan kamera di halte bis.

Setelah beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera tsb ternyata masih tersimpan dengan posisi yang tidak berubah.

Fakta inipun menjadi ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di negeri kita. Di negeri kita, cuma sepasang sendal jepit saja ternyata bisa hilang, dan hilangnya justru saat di mesjid, padahal mesjid itu identik sebagai rumah Allah yang Maha Melihat.

 Dalam kisah yang lain, di Jerman, ada seorang ibu marah-marah kepada orang Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah. Ibu tsb bilang :
“Maaf saudara, Saya mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, ternyata hari ini Anda menghancurkannya. Karena saat anak saya melihat Anda melanggar aturan, saya khawatir dia akan meniru Anda”.

Mengapa kontradiksi ini terjadi ?

Syaikh Basuni, seorang ulama, pernah berkirim surat kepada Syeikh Muhamad Rashid Ridha, ulama terkemuka dari Mesir yang juga murid Syeikh Muhammad Abduh.

Suratnya berisi pertanyaan :  ‎لماذا تأخر المسلمون وتقدم غيرهم؟
("Mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju?")

Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu.

Inti dari jawaban Syeikh Muhamad Rashid Ridha, Islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena juga meninggalkan ajarannya.

Mengapa demikian? Karena kejayaan Islam terjadi pada generasi awal Umat Islam, yang mana mencapai puncaknya di masa kekuasaan bani umayyah dan bani abasiah. Saat itu, Islam sebagai agama dan ajaran betul-betul menjadi acuan dan pedoman hidup rakyatnya.

Sedangkan barat, mengalami keterpurukan dan keterbelakangan justru saat gereja menjadi pemangku kebijakan tertinggi dalam pemerintahan dan Negara. Padahal gereja identik dengan orang2 yang mengamalkan ajaran kitab Injil.

 Akhirul kalam, ada baiknya kita menyimak kalam ilahi dalam surat at Taubah ayat 20:

الذين آمنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أَعْظَمُ دَرَجَةً عند الله وأولئك هم الفائزون

 “Orang-orang yang beriman , berhijrah dan berjihad atau mujahadah dijalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. [QS.At Taubah : 20].

 Inti ayat ini adalah, bahwa apabila kita ingin memperoleh derajat yang tinggi dan sukses dunia akherat, termasuk juga kembali mengulang kejayaan Islam tempo dulu, maka syaratnya adalah Iman, hijrah dan mujahadah harus terintegrasi ke dalam diri kita. Lebih jauhnya, orang yang imannya benar, dia pasti akan hijrah dengan meninggalkan kemalasan dalam beribadah dan beramal, meninggalkan kedurhakaannya kepada-Allah dan meninggalkan segala bentuk kecintaannya pada dunia, menjadi suka dan cinta pada ketaatan dan akherat. Oleh karena hal itu dilakukan sepanjang perjalanan hidupnya sebagai muslim, maka kesemuanya ini tentu saja menuntut totalitas atau mujahadah. Dengan demikian, sekali lagi..iman, hijrah dan mujahadah merupakan kunci bagi manusia untuk meraih derajat yang tinggi dan kemenangan dalam melawan musuh-musuh kebenaran.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Suwandi, SE.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,   Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga SMAS UNGGULAN AR-RAHMAN…

Selengkapnya