A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Division by zero

Filename: public/Readmore.php

Line Number: 37

Backtrace:

File: /home/arrah340/public_html/sma/application/controllers/public/Readmore.php
Line: 37
Function: _error_handler

File: /home/arrah340/public_html/sma/index.php
Line: 315
Function: require_once

KENAPA HARUS BOARDING SCHOOL | SMAS UNGGUL AR-RAHMAN

SMAS UNGGUL AR-RAHMAN

Jl. Moch Amir Km 9, Kec. Bojonggenteng Parungkuda Kab. Sukabumi Jawa Barat

Membina Generasi Yang Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Humanis

KENAPA HARUS BOARDING SCHOOL

Kamis, 19 Oktober 2017 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 236 Kali

(disarikan dari berbagai sumber)

Boarding school terdiri dari dua kata yaitu boarding dan school. Boarding berarti asrama. Dan school berarti sekolah. Boarding School adalah sistem sekolah berasrama, dimana peserta didik dan juga para guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya.

Di lingkungan sekolah, para siswa dapat melakukan interaksi dengan sesama siswa, bahkan berinteraksi dengan para guru setiap saat. Contoh yang baik dapat mereka saksikan langsung di lingkungan mereka tanpa tertunda. Dengan demikian, pendidikan kognisi, afektif, dan psikomotor siswa dapat terlatih lebih baik dan optimal. Boarding School yang baik dijaga dengan ketat agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan atau dengan ciri khas suatu sekolah berasrama. Dengan demikian peserta didik terlindungi dari hal-hal yang negatip seperti merokok, narkoba, tayangan film/sinetron yang tidak produktif dan sebagainya.Di sekolah dengan sistem ini, para siswa mendapatkan pendidikan dengan kuantitas dan kualitas yang berada di atas rata-rata pendidikan dengan sistem konvensional.

 Sistem pembelajaran boarding merupakan sistem pembelajaran dimana siswa tinggal berasrama dengan aktifitas yang padat. Sistem pembelajaran boarding selalu dalam pengawasan pihak sekolah 24 jam sehingga jadwal belajar dapat optimal. Disinilah karakter demi karakter dipersiapkan untuk menghadapi masa depan. Sutrisno dalam artikelnya yang berjudul Problem dan Solusi Pendidikan Sekolah Berasrama menyebutkan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh boarding school dibandingkan sekolah lain. Diantaranya adalah program pendidikan yang paripurna, lingkungan yang kondusif, guru yang berkualitas, siswa yang heterogen, jaminan keamanan dan disiplin yang tinggi.

 Program pendidikan paripurna adalah salah satu keunggulan  boarding school. Sekolah-sekolah regular pada umumnya hanya sibuk dengan keadaan akademis. Sehingga, banyak aspek kehidupan yang seharusnya mereka pelajari harus ketinggalan karena keterbatasan waktu yang mereka miliki. Berbeda dengan boarding school. Disini mereka mempunyai waktu penuh selama 24 jam. Mereka dapat mempraktekan apa saja yang telah diajarkan disekolah atau asrama. Disini juga mereka akan berlatih menjadi pemimpin dengan berbagai macam organisasi yang dipegangnya. Mereka akan mencari solusi setiap ada masalah dengan keterbatasan yang mereka miliki. Disinilah mereka akan dituntut untuk berpikir dengan keterbarasan yang ada. Sehingga terbentuklah pemipin-pemimpin bangsa yang berpikir kritis.

 Lingkungan yang kondusif dapat menjadi alasan mengapa kita memilih boarding school. Dalam sekolah berasrama semua elemen yang ada dalam komplek sekolah terlibat dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru atau bisa dibalik gurunya bukan hanya guru mata pelajaran, tapi semua orang dewasa yang ada di boarding school adalah guru.

Siswa tidak bisa lagi diajarkan bahasa-bahasa langit, tapi siswa melihat langsung praktek kehidupan dalam berbagai aspek. Guru tidak hanya dilihatnya di dalam kelas, tapi juga kehidupan kesehariannya. Sehingga ketika mempelajari tertib bahasa asing misalnya maka semuanya dari mulai tukang sapu sampai principal berbahasa asing. Begitu juga dalam mempelajari berbagai hal lainnya termasuk dalam melatih kemimpinan.

 Selain itu, sekolah-sekolah berasrama umumnya menentukan persyaratan kualitas guru yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah konvensional. Kecerdasan intellectual, sosial, spiritual, dan kemampuan paedagogis-metodologis serta adanya  ruh mudarris   pada setiap guru di sekolah berasrama.  Dengan penguasaan berbagai macam bahasa asing, sang guru akan dapat mewarisi kemampuan berbahasanya bagi anak didiknya.

 Boarding school juga mampu menampung siswa yang heterogen. Dengan berbagai macam latar belakang, Social, budaya, tingkat kecerdasan serta kemampuan akademik yang beragam. Mereka semuanya akan ditempa dengan kondisi yang sama. Mulai dari makan, istirahat, hingga proses belajar mengajar mereka akan melaluinya secara bersama-sama. Disinilah nantinya akan terbentuk karakter social yang tinggi diantara siswa. Ketika salah satu dari mereka mengalami masalah, maka orang pertama yang akan menolongnya adalah teman- teman terdekatnya. Di sinilah berbagai macam karakter kepemimpinan akan terbentuk. Mereka harus belajar untuk memimpin diri sendiri khususnya.

 Dengan adanya boarding school maka pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan membentuk kepribadian yang utuh setiap siswanya. Pelayanan pendidikan dan bimbingan dengan sistem boarding school yang diupayakan selama 24 jam, akan diperoleh penjadwalan pembelajaran yang lebih leluasa dan menyeluruh, segala aktifitas siswa akan senantiasa terbimbing, kedekatan antara guru dengan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan senantiasa diterarpkan karena murid mengetahui setiap aktifitas guru selama 24 jam. Sehingga pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, dan maka dari itu dalam makalah ini akan dibahas secara singkat mengenai sistem pendidikan sekolah terpadu (berasrama) yang merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan pesantren yang modern yang lebih dikenal dengan boarding school.

 Contoh lainnya adalah dalam berorganisasi. Di sekolah-sekolah lanjutan menengah pertama (SMP) ataupun menengah atas (SMA) telah berdiri beberapa organisasi, seperto OSIS (Organisasi Intra Sekolah), Rohis, MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas), dan banyak lagi. Dengan adanya  boarding school organisasi ini pastinya akan lebih aktif. Akan lebih banyak program-program yang akan mereka kerjakan selama satu tahun kedepan. Di sini mereka mempunyai waktu lebih untuk mengapresiasikan sikap kepemimpinan mereka. Jika di sekolah-sekolah reguler lainnya hanya organisasinya hanya berjalan pada saat proses belajar mengajar, siswa yang tinggal di asrama dapat melakukan kegiatannya organisasinya hingga pada malam hari. Inilah salah satu keuntungan tinggal di asrama.

 Jaminan keamanan dan disiplin yang tinggi juga terdapat di  boarding school. Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Makanya, banyak sekolah asrama yang mengadop pola pendidikan militer untuk menjaga keamanan siswa-siswinya. Tata tertib dibuat sangat rigid lengkap dengan sangsi-sangsi bagi pelanggarnya. Daftar “dosa” dilist sedemikan rupa dari dosa kecil, menengah sampai berat. Jaminan keamanan diberikan sekolah berasarama, mulai dari jaminan kesehatan (tidak terkena penyakit menular), tidak NARKOBA, terhindar dari pergaulan bebas, dan jaminan keamanan fisik (tauran dan perpeloncoan), serta jaminan pengaruh kejahatan dunia maya.

 Memang, membutuhkan pengorbanan yang sangat berat untuk tinggal diasrama. Tapi inilah salah satu solusi untuk mencari pemimpin-pemimpin masa depan yang handal. Yang mempunyai pemikiran kritis. Yang mampu mengayomi masyarakatnya. Berapa banyak lagi keunggulan-keunggulan  boarding school yang harus penulis paparkan agar menjadi sebuah wahana untuk membuat perubahan bagi negeri ini dengan keharian pemimpin-pemimpin sejati. Walaupun masih banyak kekurangan di sana sini yang dimiliki oleh boarding school seperti lokasi asrama dan sekolah yang berdekatan. Ini memang akan membuat jenuh bagi siswa-siswinya. Tapi untuk sebuah perjuangan menjadi sosok pemimpin yang di cita-citakan itu bukanlah sebuah alasan menolak untuk ditempa di sekolah berasrama. Mudah-mudahan dengan kehadiran tukilan sebuah tulisan sederhana ini dapat menjadi sebuah inspirasi nantinya bagi pemerintah, masyarakat serta kaum pelajar khususnya dalam menaggapi kehadiran boarding school  di negeri ini.

 Di lingkungan sekolah ini, para siswa dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak perkembangan iptek yang begitu pesat. Adapun sekolah yang berbasis Islamic boarding school memiliki srategi pendidikan islam dalam menghadapi tantangan modernisasi.

 Prinsip dasar pendidikan islam dengan sistem boarding school, berupaya mengintegrasikan ayat qauliyah (ayat Al qu’an) dan kauniyah (ayat tanda kebesaran Allah dalam alam semesta), iman dan ilmu, aspek fikriyah dan ruhiyah dengan jasadiyah yang diimlementasikan dalam pembelajaran dan hubungan sosial siswa. Dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, baik di sekolah, asrama dan lingkungan masyarakat yang dipantau oleh guru-guru selama 24 jam. Kesesuaian sistem boardingnya, terletak pada semua aktivitas siswa yang diprogramkan, diatur dan dijadwalkan dengan jelas. Sementara aturan kelembagaannya sarat dengan muatan nilai-nilai moral.

Kelebihan-kelebihan lain dari sistem ini adalah : sistem boarding lebih menekankan pendidikan kemandirian. Berusaha menghindari dikotomi keilmuan (ilmu agama dan ilmu umum). Dengan pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan membentuk kepribadian yang utuh setiap siswanya menjadikan siswanya menjadi siswa yang bertqwa kepada Allah, cerdas dalam berfikir dibidang imtaq dan iptek, serta mandiri dalam menjalankan kehidupan. Pelayanan pendidikan dan bimbingan dengan sistem boarding school yang diupayakan selama 24 jam, akan diperoleh penjadwalan pembelajaran yang lebih leluasa dan menyeluruh, segala aktifitas siswa akan senantiasa terbimbing baik dari segi ilmu umum dan ilmu diniyah, kedekatan antara guru dengan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan senantiasa diterarpkan karena murid mengetahui setiap aktifitas guru selama 24 jam. Pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, ucapan, perilaku dan sikap siswa akan senantiasa terpantau, tradisi positif para siswa dapat terseleksi secara wajar, terciptanya nilai-nilai kebersamaan dalam komunitas siswa, komitmen komunitas siswa terhadap tradisi yang positif dapat tumbuh secara leluasa, para siswa dan guru-gurunya dapat saling berwasiat mengenai kesabaran, kebenaran, kasih sayang, dan penanaman nilai-nilai kejujuran, toleransi, tanggungjawab, kepatuhan dan kemandirian dapat terus-menerus diamati dan dipantau oleh para guru / pembimbing. Pola-pola pendidikan hendaknya mengembangan dan menyadarkan siswa terhadap nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan, kearifan dan kasih sayang sebagai nilai-nilai universal yang dimiliki semua agama.

Pendidikan juga berfungsi untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan secara spesifik sesaui keyakinan agama. Maka setiap pembelajaran yang dilakukan hendaknya selalu diintegrasikan dengan perihal nilai di atas, sehingga menghasilkan anak didik yang berkepribadian utuh, yang bisa mengintegrasikan keilmuan yang dikuasai dengan nilai-nilai yang diyakini untuk mengatasi berbagai permasalahn hidup dan sistem kehidupan manusia. Sementara pendidikan di Indonesia selama ini, disadari atau tidak, belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global, karena persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Pendidikan dengan Sistem Boarding School (perpaduan/integrasi sistem pendidikan pesatren dan madrasah) sebenarnya afektif untuk mendidik kecerdasan, ketrampilan, pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai moral peserta didik, sehingga anak didik lebih memiliki kepribadian yang utuh khas. Karena pendidikan dengan sistem boarding school antara lain mencakup[2]:

  • Salimun ‘aqidah atau penanaman akidah yang selamat
  • Sahihul ‘ibadah atau ibadah yang benar
  • Matinul khuluq atau penenaman akhlak terpuji
  • Quadirul ‘alal kasbi atau mengajarkan kemandirian secara ekonomi
  • Mu’saqaful fikri atau menggugah untuk berwawasan luas dengan gemar membaca dan menulis
  • Qowiyul jims atau melatih fisik yang kaut
  • Mujahidun lii nafsi atau menanamkan untuk bersungguh-sungguh menjaga diri
  • Munazomi fii su’unihi atau menanamkan untuk selalu teratur dalam segala hal
  • Hari’sun ‘alal waqtihi atau menanamkan untuk selalu menjaga waktu
  • Nafi’un lii gairihi atau bermanfaat bagi orang lain

 

Produk atau lulusan dari perpaduan pondok pesantren dan sekolah atau biasa disebut dengan boarding school menurut survey dan penelitian oleh lembaga islam  yaitu untuk mencetak anak agar menjadi “Zurriyyah qurrota a’yun” (anak/keturunan yang menyenagkan hati) yang pada gilirannya akan menjadi “Imam li al-muttaqin” (pengayom bagi orang yang bertaqwa). Zurriyyah qurrota a’yun adalah kader-kader yang akan menjadi Imam li al-muttaqin. Imam li al muttaqin memiliki dua cirri yaitu Itba’ syari’atillah (mengikuti ajaran Allah yang tertuang dan terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah) sekaligus Itba’ sunnatillah (mengikuti aturan-aturan Allah yang berlaku di alam semesta ini). Profil orang-orang yang itba’syari’atillah adalah:

  1. Mereka senantiasa membaca Al-Qur’an dan sunnah dan berusaha memahami ajaran Allah yang terkandung di dalamnya serta berusaha menghayatinya.
  2. Mereka dapat memposisikan diri sebagai pelaku (actor) ajaran islam, bukan hanya pemikir atau penalar, tetapi juga menjadi pelaku yang setia, karena pada dasarnya agama islam adalah bukan sekedar intelektual, tetapi justru sebagai agama amal.
  3. Mereka memiliki komitmen yang tinggi terhadap ajaran dan nilai-nilai islam
  4. Mereka siap berdedikasi dalam rangka menegakkan ajaran dan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin. Karena itulah, profil orang-orang yang itba’ syari’atillah adalah mereka yang memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual dan keunggulan moral, serta siap berjuang dan berdedikasi dalam menegakkan ajaran islam dan nilai-nilai islam yang universal[5].

 Disamping itu, orang yang bertakwa juga sekaligus harus itba’ sunnatillah. Profil yang itba’ sunnatillah adalah:

  1. Mereka berusaha membaca dan memahami fenomena alam, fenomena social, dan fenomena lainnya.
  2. Agar mereka dapat memahami sunnatullah, maka mereka harus mempelajari IPA, IPS, MATEMATIKA, Bahasa asing, dll., gemar melakukan penelitian sehingga memiliki daya analisis yang tajam.
  3. Mereka senantiasa berusaha membangun kepekaan intelektual serta kepekaan informasi.

 Karena masing-masing memiliki individu yang bakat, kemampuan dan minat tertentu, maka dalam itba’ sunnatillah perlu melakukan pengembangan diri sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing. Sedangkan menurut M. M. Billah yang dikutip oleh A. Tafsir mengemukakan bahwa tipe produk dari lembaga yang memadukan pesantren dan sekolah yaitu:

  • Religius Skillfull People, yaitu insan muslim yang akan menjadi tenaga-tenaga terampil, ikhlas, cerdas mandiri, tetapi sekaligus mempunyai iman yang teguh dan utuh sehingga religious dalam sikap dan perilaku, yang akan mengisi kebutuhan tenaga kerja di dalam berbagai sector pembangunan.
  • Religius Community Leader, yaitu insan Indonesia yang ikhlas, cerdas dan mandiri dan akan menjadi penggerak yang dinamis di dalam transformasi sosial budaya (madani) dan sekaligus menjadi benteng terhadap ekses negative pembangunan dan mampu membawakan aspirasi masyarakat, dan melakukan pengendalian social.
  • Religius Intelektual, yang mempunyai integritas kukuh serta cakap melakukan analisa ilmiah dan cocern terhadap masalah-masalah sosial. dalam dimensi sosialnya, pondok pesantren dapat menempatkan posisinya sebagai lembaga kegiatan pembelajaran masyarakat yang berfungsi menyampaikan teknologi baru yang cocok buat masyarakat sekitar dan memberikan layanan social dan keagamaan, sekaligus pula memfungsikan sebagai laboratorium social, dimana pondok pesantren melakukan eksperimentasi pengembangan masyarakat, sehingga tercipta keterpaduan hubungan antara pondok pesantren dan masyarakat secara baik dan harmonis, saling menguntungkan dan saling mengisi[6].

 

 

Bergabung bersama kami  menjadi keluarga besar Pondok Pesantren Ar-rahman.

SMAS UNGGUL AR-RAHMAN Sukabumi.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Suwandi, SE.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,   Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga SMAS UNGGULAN AR-RAHMAN…

Selengkapnya